Mengenal Eiji Tsuburaya, Bapak Tokusatsu Dunia


(Eiji Tsuburaya saat shooting “UltraSeven”. Sumber foto : en.tsuburaya-prod.co.jp)

            Tokusatsu adalah sebutan untuk film atau serial televisi jepang yang menggunakan Special Effect, entah itu yang Practical Effect atau Computer Simulated Effect yang seringkali digunakan pada dunia perfileman pada jaman ini. Dan seperti banyak hal di dunia ini ada orang yang mempelopori hal tersebut, untuk Tokusatsu sendiri adalah seseorang yang disebut sebagai Bapak Tokusatsu, Eiji Tsuburaya.

Siapa Eiji Tsuburaya?

            Eiji Tsuburaya lahir dengan nama Eiichi Tsumuraya pada 7 Juli 1901 di kota Sukagawa Prefektur Fukushima, Jepang. Eiji sendiri menjelaskan masa kecil nya tidak terlalu baik, ibu nya Sei Tsumuraya meninggal saat dia berumur 3 tahun, sedangkan ayah nya Isamu Tsumuraya pindah ke Cina untuk menjalankan bisnis keluarga nya, Eiichi pun diurus oleh Paman nya Ichiro dan nenek nya yang bernama Natsu. Ichiro bersikap seperti kakak kandung kepada Eiichi, dikarenakn ini juga Eiichi mengganti namanya menjadi Eiji yang berarti “anak kedua”, bukan Eiichi “anak pertama”.

Eiji muda pun menempuh masa pendidikan nya di Sekolah Jinjou dan lulus pada tahun 1916, Pada masa ini Eiji memiliki hobi membuat mainan pesawat terbang dan menjadi passion untuk Eiji sendiri, Akhirnya Eiji memutuskan untuk masuk Nippon Flying School di Haneda,  tetapi sayang nya sekolah ini ditutup dikarenakan insiden yang menimpa pendiri sekolah ini, mimpi Eiji pun akhirnya runtuh. Pada tahun 1917 Eiji memutuskan untuk masuk Tokyo Denki University, untuk membayar pendidikan nya Eiji juga bekerja di perusahaan mainan bernama Utsumi Toy Company dibagian riset dan pengembangan, ia memiliki track record bagus di perusahaan ini, kemudian saat mengikuti pesta perusahaan pada 1919, Eiji bertemu seseorang yang akan membuatnya menjadi seorang legenda perfilman yang kita tau sekarang ini.

Berawal dari asisten, hingga film propaganda, dan Godzilla..

            Saat mengikuti pesta perusahaan, Eiji bertemu dengan seorang direktur film bernama Yoshiro Edamasa, ia memberi tawaran pekerjaan kepada Eiji sebagai kameramen, eiji menerima pekerjaan in dan memulai karir nya di dunia perfilman sebagai asisten sinematografi di Nihon Cinematograph Company. Setelah mengikuti kegiatan militer dari tahun 1921 hingga 1923, Eiji bekerja sebagai asisten kameramen untuk film A Page Of Madness buatan Teinosuke Kinugusa yang menjadi hit pada tahun 1925. Pekerjaan asisten Eiji berakhir saat ia bekerja di Sochiku Kyoto Studio, dimana ia pada akhirnya menjadi full-time kameramen pada 1927. Saat bekerja di perusahaan ini, kreativitas Eiji benar benar terlihat, ia menggunakan teknik teknik yang ia kembangkan sendiri dan belum pernah digunakan sebelumnya, teknik ini pun digunakan pada film Chohiciro Matsudaira, teknik ini lah yang menjadi awal dari Tokusatsu.

            Pada tahun 1930 Eiji menikah dengan Masano Araki dan memiliki anak bernama Hajime. Pada masa ini Eiji bekerja dengan banyak Studio dan namanya makin dikenal dikarekan kreativitas dan teknik perfilman-nya, pada masa ini juga film King Kong buatan Willis O’Brien tayang di Jepang, dan menjadi inspirasi awal dari legenda Eiji, kita akan kembali pada King Kong nanti..

            Pada 1938 Eiji menjadi pimpinan tim Special Effect untuk Toho Tokyo Studio dan membuat departemen pribadinya pada 1939. Toho Studio mendapatkan banyak penghargaan dikarenakan Eiji, Eiji sendiri mengembangkan teknik nya lebih luas lagi saat bekerja dengan Toho, tetapi tidak bertahan lama. Saat jaman perang dunia kedua, Eiji  dan Toho diperintah oleh pemerintahan jepang untuk membuat film-film propaganda, Eiji menyutradarai 7 Film pada masa ini, salah satu film nya yang berjudul Hawaii Mare Oki Kaisen (Perang dari Hawaii ke Malaya) benar-benar sukses hingga tim perfilman jendral MacArthur dari Amerika, benar-benar terkesan dengan film ini, dan membeli footage film ini untuk digunakan pada film propaganda Amerika, Pearl Harbour. Tetapi setelah perang selesai, Eiji kesusahan untuk mendapatkan pekerjaan dikarenakan perannya pada film-film propaganda, eiji pun menjadi freelancer di perusahaannya yang bernama Tsuburaya Visual Effect Research, dimana ia ikut memproduksi film-film studio lain hingga ia bekerja dengan Toho lagi pada 1950.

            Saat kembali bekerja di Toho Studio, ia teringat dengan Film King Kong yang ia tonton saat tahun 30-an, setelah menontonnya Eiji ingin membuat film monster. Impian Eiji ini akhirnya terwujud saat dua orang yang bekerja juga di Toho bernama Ishiro Honda dan Tomoyuki Tanada mendatangi nya untuk membuat sebuah film Monster yang bertemakan Nuklir Holokaus pada 1954, pada tahun yang sama juga produksi film ini selesai, dan dirilis dengan judul “Gojira”.. atau yang seluruh dunia kenal dengan nama , “Godzilla”.

(1954 Gojira. Sumber foto : ghoulishmedia.com)

Menyebut Godzilla sebagai hanya sebuah film monster benar-benar adalah sebuah kesalahan, film ini benar-benar membentuk film modern yang kita kenal saat ini, dengan tema yang benar-benar kelam dan menyayat hati penduduk jepang dikarenakan bom Hiroshima dan Nagasaki, dan tentunya kreativitas Eiji Tsuburaya yang mebuat film ini benar-benar terlihat realistis, Godzilla menjadi sukses besar tidak hanya di jepang tapi di seluruh dunia. Eiji menggunakan sebuah teknik baru pada saat itu dimana monster nya merupakan sebuah kostum, yang pada akhirnya membuat Godzilla benar-benar terlihat nyata, Godzilla adalah Magnum-Opus Eiji, Ishiro, dan Tomoyuki, Mereka pun dijuluki “The Golden Trio” oleh Toho, dan Eiji dengan teknik-teknik revolusioner nya di film ini, diberi julukan Bapak Tokusatsu oleh seluruh dunia perfilm-an saat ini.


Tsuburaya Production, Ultraman, dan akhir hayat si Legenda.

(Eiji Tsuburaya. Sumber foto : en.tsuburaya-prod.co.jp)

Setelah kesuksesan Godzilla dan film-film sequel nya, Eiji memiliki ketertarikan lain, ia mulai tertarik untuk memproduksi serial tv. Eiji memiliki perusahaannya tersendiri yang ia bangun pada 1939, yang saat ini kita kenal dengan nama “Tsuburaya Production”, dengan ini lah pada Januari 1966 Eiji membuat sebuah serial TV bernama “UltraQ” yang sukses menjadi hit dan memulai “Monster Boom” pada saat itu di Jepang, dan pada bulan Juli serial “Ultraman” pertama tayang dan hingga saat ini seri-seri Ultraman benar-benar populer dikalangan semua umur dan masih berlanjut. Pada saat ini Eiji juga masih bekerja dengan Toho, membuat banyak film dan mendapat banyak penghargaan atas karya nya, hingga pada tanggal 25 januari 1970 Eiji Tsuburaya yang berumur 68 tahun dan dikaruniai 3 orang anak, meninggal dikarenakan serangan jantung di kota Ito, prefektur Fukushima, Jepang.

Itulah kisah dari Eiji Tsuburaya, seorang yang berpengaruh besar dalam dunia perfilm-an, teknik-teknik ciptaan nya masih digunakan oleh produser film hingga saat ini, Karya nya seperti Godzilla dan Ultraman menjadi Icon kultur yang benar-benar dikenal di seluruh dunia, Eiji berharap karta-karya nya bisa menimbulkan percikan kreativitas pada penonton nya.

Comments